Tindakan Arogan Pegiat Street Photography yang Seringkali Menimbulkan Rasa Tidak Nyaman

November 10, 2016

www.KANGYASIN.com, #Street - Halo pecinta foto jalanan, kali ini ada artikel menarik yang menurutku 11-12 lah sama artikel ku tentang Kedewasaan Dalam Street Fotogradi, kali ini sisi Arogan akan diulas dari materi yang dikirim Mas Tomi Saputra (bukan Olga ya piss mas Tomi) atau yang sering dikenal dengan sapaan Uda Tomo, apa sih sisi Arogan Pegiat Street Photography ini ? yuk simak artikel Uda Tomo berikut.

Fotografi jalanan sedang berkembang pesat di Indonesia selama kurun waktu 5 tahun terakhir, salah satu faktor pendorongnya adalah makin pesatnya perkembangan fotografi di media sosial dan perkembangan teknologi fotografi khususnya kamera pada kamera pintar, semua orang bisa mengambil gambar dimana saja dan kapanpun. Sudah tidak asing lagi jika ada indvidu atau bahkan kelompok orang yang membawa kamera dan melakukan pengambilan gambar di ruang publik. Dan tentunya tidak jarang para pegiat street photography ini melakukan tindakan yang cukup menganggu bagi orang lain. Berikut beberapa tindakan arogan pegiat street photography yang sering kali menimbulkan rasa tidak nyaman :

Bruce Gilden photographed in action by Cheryl Dunn
Memotret dengan tambahan flash 
Gila! Itulah satu kata yang yang terlontar dari mulut saya ketika pertama kali melihat teknik ini, memotret dengan menggunakan flash di ruang publik, Jika memotret dengan flash ingatan langsung mengarah kepada Bruce Gilden, tentunya dengan menggunakan flash sangat memberikan kemungkinan besar untuk provokatif, butuh nyali yang cukup besar tentunya untuk melakukan teknik ini, tidak jarang tentunya tindakan memotret seperti ini menuai kecaman, bahkan yang tidak nyaman bisa melakukan tindak kekerasan fisik kepada fotografernya. Jika anda punya nyali yang cukup kuat, silahkan simak lebih lengkapnya bisa dilihat pada video ini.

Uda Tomo - Bandung, 2016

Gerombolan pemburu foto
Dikutip dari buku On Street Photography karya Erik Prasetya pada point Problem Etiket; pemburu, pencopet, atau pencuri hati?:

“Belakangan ini banyak kursus dan “hunting bareng” street photography yang dilakukan dengan cara-seperti namanya “hunting”-bagaikan berburu babi. Gerombolan orang membawa kamera pergi ke jalan dan memotret perempuan, lelaki, maupun transjender yang ada di sana, terang-terangan. Kadang mereka memakai blitz yang mengagetkan, atau rentetan motor-drive yang ritmenya mirip senapan mesin, sehingga yang difoto menjadi jengah. Tipe pemburu tidak peduli jika ia menganggu orang. Mereka memperlakukan objek foto sebagai buruan yang tak perlu diperhitungkan. Dalam bahasa lebih keras, ini tipe pemerkosa.”

Di beberapa event hunting bareng yang saya ikuti seringkali ditemukan peserta yang menenteng lensa tele yang tentunya ini sangat mengintimadasi, pernah pada suatu kesempatan di akhir tahun 2015, peserta hunting street photography berjumlah 500 orang, ketika ada satu orang penduduk yang yang sedang melamun atau terlihat berbeda maka para peserta tidak segan-segan langsung menodongkan kamera mereka, layaknya sebuah pengeroyokan yang sering terjadi pada perkelahian yang sangat tidak imbang, anda tentunya bisa bayangkan bagaimana perasaan orang yang sedang dipotret? Dan setelah selesai melepaskan hajatnya para fotografer ini berlalu begitu saja.

Memotret orang-orang yang tidak berdaya
Homeless dan street performance sudah menjadi bagian keseharian di ruang publik, dan tidak jarang menjadi hal menarik bagi kebanyakan pegiat street photography untuk difoto, meskipun demikian beberapa tahun terakhir sudah banyak kompetisi street photography yang menolak foto dengan adanya unsur Homeless dan street performance. Masih banyak tentunya yang menarik dari di ruang publik selain dari memotret orang-orang tidak berdaya, mendokumentasikan tentang gaya hidup dari kalangan menengah keatas juga menjadi bagian menarik untuk diabadikan.

Ada yang beralasan bahwa ketika memotret orang-orang yang tidak berdaya mereka ingin menceritakan bahwa masih banyak orang yang tidak beruntung, jika anda peduli kenapa hanya mempertontonkan ketidak beruntungan orang lain sesuka hati? Kenapa tidak melakukan suatu tindakan untuk membantu mereka yang tidak beruntung ini, bayangkan saya jika anggota keluarga anda yang sedang tidak beruntung fotonya dipublikasikan orang lain lain dengan seenaknya, apa yang anda rasakan?.

Memotret orang tanpa ijin
Ini adalah bagian yang tidak lepas dari kebiasaan para street photographers, melakukan kegiatan pengambilan gambar dengan teknik candid yang menghindari untuk mengadakan kontak dengan subjek yang difoto, tidak jarang kasus adanya orang di ruang publik yang protes karena merasa tidak nyaman dirinya difoto secara diam-diam, memotret dengan ijin juga tidak ada salahnya, mengadakan kontak atau hanya memberikan senyuman biasanya bisa disambut dengan cukup baik.

Memasuki suatu daerah spot pengambilan gambar tanpa ijin
Belakangan ini saya mendapatkan suatu cerita dari beberapa rekan, ada suatu komunitas fotografi yang diusir dari salah satu kampung di daerah Jakarta, alasannya karena para anggota komunitas ini masuk ke suatu daerah tanpa ijin dan hanya berlalu begitu saja sambil melakukan pengambilan gambar, ketika ingin berkarya cenderung ego yang dikedepankan sehingga tidak jarang melupakan tindakan apa saja yang bisa menimbulkan rasa tidak nyaman terhadap orang lain.

Eits artikel ini kamu bisa baca juga langsung di :
Tindakan Arogan Pegiat Street Photography yang Seringkali Menimbulkan Rasa Tidak Nyaman
https://udatommoto.wordpress.com/2016/11/07/tindakan-arogan-pegiat-street-photography-yang-seringkali-menimbulkan-rasa-tidak-nyaman/

Info Penulis :
Instagram : @udatommo
Website : https://udatommoto.wordpress.com

You Might Also Like

1 komentar

  1. hemmmmmhh...
    mau komentar apa yah?
    Sekalian tulis dong di atikel saran untuk Street Fotografi...

    BalasHapus

Popular Posts

Like us on Facebook

Twitter Timeline

Instagram

Subscribe